Cerita senja
di balik abu-abu 2013
Pagi
hari telah datang seperti biasanya. Serasa hal ini tak akan mungkin lagi di
jangkau oleh pandang kedua ciptaanmu ini. Selisih 3 tahun seperti 3 menit.
Apakah pertanda..?, ini bukan hanya sekedar menjadi adam yang akan dewasa akal
& budi pekertinya kelak, namun juga berujung akhlak yang menyertainya.
serasa hal itu tak akan pudar
diingatan dan tak lekang oleh waktu. Siapa sangka yang dulunya hanyalah sepucuk
sekarang mulai akan tumbuh menjadi pohon yang insaalaah akan kokoh.
Ini adalah singgasana cerita di balik
abu-abu 2013, dimana insang cinta, bersahabat, berteman dan 5 orang merpati
yang selalu ikut di dalam cerita.
Di balik siang hari itu serasa cerah seperti
pagi hari selalu. Ini tak seperti hari biasanya. Ini hari awal mulanya senja
itu dan menutup hari pagi-pagi selanjutnya.
Pagi dimana hari yang membebaniku
setiap akan menuju senja yang ada di ufuk barat sebelah lapangan masjid itu.
hati terasa gemetar ketika akan masuk ke senja itu. hati tak tenang ketika akan
masuk ke gerbang pembuka gedung yang besar nan indah itu.
Ini awal untuk melukis lembaran putih
baru lagi. yang dulu sudah pudar akan waktu yang menyeliputinya. Putih dan
hitam..? tak tau lagi mana yang lebih terang. Apakah gelap atau terang, hanya ruh
di dalam adam yang tau. dan tuhan yang dzatnya tak pupus oleh ruang dan waktu
dan ada sebelum ketiadaan yang lebih amat tau akan ruh adam ini.
Senja pagi ini adalah awal baru
tingkatan ke 4 menjejaki hidup di bumi beratap bangunan di sebelah lapangan masjid.
Ingatan ini selalu ingin menentang kembali ke masa sebelumnya. Serasa mulut
ingin melontarkan kata dan pikiran terus bergejolak “ini bukan saya”, ”ini
bukan saya”, dan “ini bukan saya”. ini hanyalah ilusi yang dibuat oleh susasana
yang memaksakanku untuk melepas yang sudah diraih dan melanjutkan kedepan.
Hidup katanya tak boleh mundur. Hidup
harus terus maju. Meski sakit ini memaksa melupakan kenangan yang telah di buat
sebelumnya. Hati ini ragu, bingung, dan tak tau siapa yang harus disapa di saat
aku di dalam gedung yang molek nan kokoh itu. Lirikan ke keri bukan
siapa-siapa, lirikan kekanan juga bukan siapa-siapa, lirikan kedepan bukan
siapa-siapa, dan lirikan kebelakangpun bukan siapa-siapa.
Ketidaktauan itu memaksakan adam ini
berusaha menjadi lebih baik. haruslah Berfikir katanya, untuk awal yang harus di
usahakan untuk seorang insan. Tak ada kata takut, bimbang, dan bingung.
Harusnya ditempuh dengan berani. Sampai di titik itu aku berjumpa dengan satu
persatu merpati sampai lengkap menjadi 5. 5 merpati yang memiliki prinsip yang
kuat nan berbeda. Adam ini mengakui prinsip mereka kuat berbeda dan bertujuan.
Tak ada satupun yang ingin menimpangkan satu sama lain. inginnya berbeda namun
tetap bersatu, bulat dan menjadi cinta bersahabat tak terpisah.
Di hari lain kita bercanda tawa,
berkumpul dan berbincang dari salah satu
5 merpati itu. merpati berbicara tentang hawa. Yang lain terpana ingin
mengikuti pembicaraan dan adam inipun
juga. Cerita dimana merpati memperjuangkan cinta hawa meskipun berbeda usia
namun saling cinta. Terpaut 2 mil dari si merpati tapi tak melengangkan dan
menggugurkan hatinya untuk memperjuangkannya. Meskipun cibiran kerap kali
datang, bisikan yang menggugurkan hati sering terbisik di telinganya. Namun
merpati tetap kuat mempertahankan cintanya. Katanya “cinta harus diperjuangkan”.
“jangan menyerah akan perbedaan”. tak masalah terpaut 2 mill. Namun merpati
mengatakan saya cinta hawa. adam ini pun terpelanga dengan cinta dirinya dengan
hawa.
Sekejap keheningan malam menggantikan
pembicaraan “hawa” ke hari selanjutnya. Hari itu salah satu dari ke 5 merpati
memulai pembicaraan dengan pembicaraan yang sama yaitu “hawa”. Adam dan ketiga
merpati mengikuti pembicaaraan itu. merpati berbicara seorang hawa yang
disukanya namun dimiliki orang lain. hatinya sakit tak tertahankan sampai
rasanya ingin melampiaskan ke hawa yang lain. namun serentak dari ke 4 berkata”
janganlah kau buat seperti itu, itu tidak baik, biarkan dia bersenang dengan
orang lain” pada saatnya engkau merpati akan dapat hawa yang seperti kau
harapkan. Elok rupanya, baik budi pekertinya, dan cinta yang tulus,..insaallah.
waktu yang terus berputar mempertemukannya
dengan hawa yang di dambakannya. elok wajahnya, enak di pandang, dan primadona
di gedung yang kuat nan indah itu. dirinya bersyukur mendapatkannya, ke 4
merpati iri melihatnya. kenapa dia bisa kita pun tak bisa.
Malam selanjutnya berganti, dan kelima
merpati berkumpul seperti biasanya. Tertawa, bercanda, dan tak tentu arah
pembicaraan. Sampai salah satu memulai
pembicaraan tentang angan-angan memiliki seorang sosok pendamping hidup “hawa”.
Merpatipun berkata ”akupun merasa tak seelok tampan dapat seorang hawa yang ku
cinta”. Serentak ke 5 lima berkata “janganlah kau begitu kawan”. Hidup haruslah
dijalani, jangan menyalahkan keelokan tampan. Yang dilihat disisinya bukan
tampan melainkan ketulusan di dalam hati. Jangankan engkau, kita pun pernah
seperti itu. tapi kembalikan lagi ke sisi yang paling sempurna. Jika si hawa
bisa melihat ketulusan hati engkau yang begitu tulus terhadap cinta yang kau
pegang. Tentulah dia tidak akan tega hati melepaskan engkau yang murni cintanya
tanpa adanya imbalan apaun. engkau hanya mengharap ketulusan cinta hawa yang
kau suka. Merpatipun menunduk dan bertegar hati menerimanya. Tersadar apa yang
di benaknya adalah bukti ketidaksyukuran terhadap karunia dan rahmat yang di
dapat. Gembira dan memerah wajahnya sambil berbinang mata semangat menanti
sosok hawa yang akan siap dengan cintanya yang tulus di dada.
malam memetangkan terangnya tanpa
bulan yang menyelimutinya. adam inipun pulang dan diikuti dengan ke empat
merpati yang lain. keesokan harinya 5 merpati berkumpul lagi dan berbicang
tentang hawa. Tinggallah adam ini dan satu merpati yang belum berbicara tentang
hawa yang diimpikannya. Merpatipun memulai ceritakan hawa yang disukanya.
Merpati ini adalah sosok yang pendiam, tak banyak tingkah, gedungnya pun di
tempat favorit. Bergelimanglah hawa-hawa yang elok rupanya disana. Merpatipun
mestinya tak akan sulit dapat hawa yang ingin di dapat. Merpatipun berkata,
akulah tak susah dapat seorang hawa yang akan kusuka. Namun hati tak boleh
memaksa untuk memaksakan hati mencintai seseorang yang elok-elok wajahnya. Hati
ini tau siapa yang tulus akan cinta. tak butuh duit untuk pembukti kesetiaan.
itu kelak hanyalah pendamping semata dalam menghidupi nafsu makan saja.
Sesungguhnya cinta adalah yang datang dari kesudian cinta lawan jenisnya. dari
cinta itu akan menentang nafsu-nafsu jahat dalam ruh. Memeperbaiki tindakan
sesorang, melulukan amarah, melapangkan dada, menenangkan, dan menyabarkan.
Itulah cinta sebenarnya yang merpati cari.
Meski merpati terlahir dari keluarga
yang berlembaga orang tuanya. Namun dirinya tetep menjadi sosok merpati yang
tak tinggi hati. Tidak menampilkan lembaga orang tuanya. Ini hanya titipan dari
sisi yang sempurna. Dia dititipkan gelimpangan harta dan lembaga orang tuanya.
Sedangkan merpati hanya tetap menjadikan dirinya sosok yang rendah. Tak mau
akan kesombongan. Maunya berbaur dengan orang tak punya dan membantunya. Tak
ingin melihatkan kelembagaan kedua orang tuannya.
Angin yang semakin dingin dan malam
yang mulai memekat membuat ke 4 merpati terbinang akan yang di impikan merpati
itu. Senyum dan terbinang air mata dibuatnya. Malam terasa semakin larut, kami 5
merpati pulang ke sarang singgasana masing-masing. di tunggu ke dua orang tua
di sarang singgasana. Menanti kepulangan merpati dengan kabar yang baik.
To be continue..... J